Oleh: Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr –hafidhahullah.
Kedudukan doa di dalam Islam sangat agung, tempatnya sangat mulia dan posisinya sangat tinggi. Karena doa adalah ibadah yang paling agung, ketaatan yang paling besar dan pendekatan diri paling bermanfaat. Oleh karena itu banyak nash / dalil yang menyebutkannya di dalam Kitab Allah I dan sunnah Rasulullah l yang menerangkan tentang keutamaannya dan menyebutkan kedudukan dan keagungan keadaannya, serta menghimbau dan menghasungkan tentangnya. Banyak sekali jenis pendalilan dari nash-nash ini dimana semuanya menerangkan tentang keutamaan doa. Ada yang berbentuk perintah dan hasungan. Ada yang berupa peringatan dari meninggalkannya dan sombong daripadanya. Pada sebagiannya mengingatkan keagungan pahalanya dan besarnya balasan di sisi Allah. Ada pula yang berupa pujian bagi orang-orang beriman yang mengamalkannya dan sanjungan kepada mereka karena mereka melakukannya dengan sempurna, serta masih banyak jenis pendalilan lain di dalam al-Qur’an al-Karim dimana semuanya menunjukkan besarnya keutaamaan doa.
Bahkan Allah I telah membuka kitabnya yang mulia dengan doa dan mengakhiri dengannya. Lihatlah surat al-Hamd
(al-Fatihah) yang merupakan pembuka al-Qur’an al-Karim yang mencakup
atas doa-doa kepada Allah dengan pemintaan-permintaan paling agung dan
maksud-maksud paling sempurna. Ingatlah, yaitu permohonan kepada Allah Azza wa Jalla
akan hidayah ke jalan yang lurus dan inayah untuk menghambakan diri
kepadaNya, dan menegakkan ketaatan kepadaNya. Demikian pula surat an-Naas,
yang menjadi penutup al-Qur’an al-Karim, mencakup doa-doa kepada Allah I
dengan memohon perlindungan kepadaNya I dari kejahatan bisikan-bisikan al-Khannaas (setan
yang bersembunyi) dari golongan jin dan manusia yang membisikkan ke
dalam dada manusia. Tidak diragukan bahwasanya membuka al-Qur’an
al-Karim dengan doa dan mengakhirinya dengan doa merupakan dalil akan
kebesaran kedudukan doa, dan bahwa doa adalah ruh ibadah, dimana hal itu
menunjukkan kebesaran kedudukannya. Seperti firmanNya I:
Dan
Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepadaKu, Aku senantiasa mengabulkan
untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
berdoa kepadaKu akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina.
(Ghaafir: 60).
Dan seperti dalam firmanNya ketika menceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
Dan
aku mengasingkan diri dari kalian dan dari yang kalian seru selain
Allah. Aku memohon kepada Rabbku, semoga dengan berdoa kepada Rabbku,
aku tidak menjadi orang-orang yang celaka. Maka ketika ia mengasingkan
diri dari mereka dan dari segala yang mereka seru selain Allah, Kami
anugerahkan untuknya Ishaq dan Ya’qub. Dan keduanya Kami angkat sebagai
nabi. (Maryam: 48-49).
Dan ayat-ayat yang senada dengannya. Dan doa juga disebut dengan nama agama (dien), seperti dalam firmanNya:
Maka berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untukNya. (Ghaafir: 14).
Dan ayat-ayat yang semisal dengannya.
Semua
itu menerangkan kepada kita kebesaran keadaan doa, dan bahwasanya doa
adalah asas peribadatan dan ruhnya, dan sebagai pertanda penghinaan
diri, ketundukan, dan kepatuhan di hadapan Allah, serta ketergantungan
denganNya. Oleh karena itu Allah menghasung para hamba untuk
melakukannya, mencintakan mereka kepadanya dalam banyak sekali ayat
al-Qur’an al-Karim. Allah I berfirman:
Serulah
Rabb kalian dengan merendahkan hati dan penuh rasa takut. Sesungguhnya
Dia tidak menyukai orang-orang yang melampuai batas. Dan janganlah
membuat kerusakan di muka bumi setelah diperbaiki, dan serulah Dia
dengan penuh rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat
dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. (al-A’raaf: 55-56).
Dialah
yang Maha Hidup, tidak ada ilah (yang diibadahi dengan benar) kecuali
Dia. Maka serulah Dia dengan mengikhlaskan agama untukNya. Segala puji
bagi Allah, Rabb semesta alam. (Ghaafir: 65).
Dia
mengabarkan sebagai dorongan bagi para hamba untuk suka berdoa,
bahwasanya Dia sangat dekat dengan mereka dan senantiasa mengabulkan
permohonan mereka, merealisir pengharapan mereka, memberi permintaan
mereka, dan berfirman:
Dan
jika hamba-hambaKu bertanya tentang diriKu, sesungguhnya Aku sangat
dekat (dengan mereka) dan senantiasa mengabulkan permohonan mereka jika
mereka memohon (kepadaKu), maka ijabahilah (perintah-perintahKu) dan
berimanlah kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(al-Baqarah: 186).
Siapakah
yang mengabulkan permohonan orang-orang yang terdesak ketika ia berdoa
kepadaNya dan menghilangkan keburukan (yang menimpanya) serta menjadikan
kalian sebagai khalifah di bumi?. (an-Naml: 62).
Oleh
karena itu seorang hamba semakin besar pengenalannya dengan Allah dan
semakin kuat hubungannnya denganNya maka berdoanya kepadaNya lebih
besar, dan ketundukannya di hadapanNya lebih sangat. Karenanya para nabi
Allah dan para rasul adalah manusia yang paling besar realisasinya
dalam berdoa dan mengejawantahkannya dalam seluruh keadaan mereka
semuanya dan seluruh kepentingan mereka semua. Dan Allah telah memuji
mereka karena hal itu di dalam al-Qur’an al-Karim, dan menyebutkan
sejumlah doa mereka dalam berbagai macam keadaan dan kesempatan yang
berlainan. Allah I berfirman mensifatkan keadaan mereka: Sesungguhnya
mereka sangat bersegera dalam kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan
penuh harap dan cemas, dan mereka khusyu’ (ketika berdoa) kepada Kami.
(al-Anbiya’: 90).
Di antara doa para nabi, seperti yang diceritakan Allah tentang nabiNya Ibrahim ‘alaihissalam ketika berfirman: Segala
puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan kepadaku di saat aku telah
renta Ismail dan Ishaaq. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Mendengar
doa. Wahai Rabbku, jadikanlah diriku dan anak-anakku sebagai orang-orang
yang menegakkan shalat. Wahai Rabbku, dan terimalah doa-doa(ku). Wahai
Rabbku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku dan
dosa-dosa orang-orang beriman pada hari ditegakkan perhitungan.
(Ibrahim: 39-41).
Dia I mengisahkan doa nabi Nuh ‘alaihissalam
ketika meminta Rabbnya agar menolong dirinya menghadapi kaumnya yang
telah mendustakan dan memusuhi dirinya. Maka Dia I berfirman: Sebelum
mereka, kaum Nuh telah mendustakan. Mereka mendustakan hamba Kami dan
mereka mengatakan: Orang gila maka usirlah dia. Maka dia berdoa kepada
Rabbnya: Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah aku. Lalu
Kami bukakan pintu-pintu langit sehingga airpun tercurah. Dan Kami
jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, sehingga (kedua pancaran)
air itupun bertemu untuk suatu urusan yang telah ditentukan. Dan Kami
angkut Nuh di atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang
berlayar dengan pengawasan Kami, sebagai balasan bagi orang yang telah
diingkari. (al-Qamar: 9-14).
Allah juga mengingatkan tentang doa nabi Ayub ‘alaihissalam ketika ditimpa keburukan, maka Ia berfirman: Dan
nabi Ayub ketika menyeru Rabbnya: Sesungguhnya keburukan menimpa
diriku, sedangkan Engkau Maha Penyayang. Maka Kami kabulkan
permohonannya, lalu Kami hilangkan keburukan yang menimpa dirinya dan
Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan
bilangannya sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi
peringatan bagi yang orang-orang yang beribadah (kepada Kami).
(al-Anbiya’: 83-84).
Ia I juga mengingatkan doa nabi Yunus ‘alaihissalam
ketika ditelan ikan, lalu ia berdoa kepada Rabbnya, sedangkan ia berada
di dalam perut ikan di tengah lautan. Dan Allah mengabulkan
permohonannnya, maka Ia I berfirman: Dan ingatlah kisah Dzun Nuun
(Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah dan ia menyangka bahwa Kami
tidak akan mempersulit dirinya. Maka ia menyeru di dalam kegelapan
(perut ikan), bahwasanya tidak ada ilah (yang diibadahi dengan benar)
kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang dzalim. Maka Kami kabulkan permohonannya dan Kami selamatkan dia
dari kedukacitaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang
beriman. (al-Anbiya’: 87-88). Demikianlah, dan barangsiapa yang
mencermati al-Qur’an al-Karim akan mendapati doa-doa para nabi dan
permohonan mereka kepada Rabbnya serta usulan mereka di hadapanNya dalam
seluruh keadaan mereka ‘alaihimushshalaatu wassalaam sebagai sesuatu
yang besar di dalamnya.
Dan
seperti ketika Ia I mensifatkan para nabi dengan doa-doanya dan
menerangkan mereka terhadapnya, serta pujianNya terhadap mereka atas
peraihannya, maka demikian juga ketika Ia mensifatkan orang-orang
beriman yang lurus dan para hamba Allah yang shalih. Ia I berfirman: Mereka
menjauhkan diri dari tempat tidur guna memohon kepada Rabbnya dengan
penuh harap dan cemas, dan mensedekahkan sebagian dari apa yang telah
Kami rizkikan kepada mereka. Maka tidak ada seorangpun yang mengetahui
(pahala) apa yang disiapkan untuk mereka yang berupa segala yang
menyejukkan pandangan di surga sebagai balasan terhadap apa yang telah
mereka kerjakan. (as-Sajdah: 16-17). Dan firman-Nya I: Dan
sabarkanlah dirimu untuk tetap bersama dengan orang-orang yang selalu
menyeru Rabb mereka di waktu pagi dan petang menghendaki Wajah Rabbnya.
(al-Kahfi: 28). Dan Ia I berfirman ketika mensifatkan penduduk surga ketika mereka memasukinya dengan penuh sejahtera dan aman: Mengalir
di bawah mereka sungai-sungai di dalam surga-surga yang penuh
kenikmatan. Seruan mereka di dalamnya: Maha Suci Engkau ya Allah, dan
ucapan penghormatan mereka di dalamnya: Semoga tetap dalam keselamatan,
dan akhir seruan mereka: Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
(Yuunus: 9-10).
Jadi
doa adalah ruh agama ini, bekal bagi orang-orang beriman dan bertakwa,
pertanda ketundukan dan kepatuhan kepada Rabb semesta alam. Semoga Allah
menjadikan kita sekalian termasuk ahlinya dan termasuk orang-orang yang
dapat meraihnya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar